Thursday, May 29, 2014

Hasil Penelitian Selama 30 Tahun: Sentuhan Kasih Sayang Faktor Utama Dalam Pernikahan Yang Penuh Cinta

Sentuhan?
Ya, sentuhan!

Hasil penelitian selama 30 tahun terhadap ribuan pasangan suami-istri yang dianggap harmonis pernikahannya menyatakan bahwa sentuhan yang penuh kasih sayang merupakan faktor penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga., faktor ini sedemikian pentingnya hingga mengalahkan faktor seks yang ‘hanya’ mendapatkan nilai 6 (skala 1-10).

Salah seorang suami yang diwawancara mengatakan bahwa apabila ia berjalan melewati istrinya di dalam rumah seratus kali, maka ia akan menyentuhnya seratus kali juga.
Ketika kita menyentuh pasangan kita dengan sayang, kita memberikan sinyal bahwa kehadirannya diakui dan pada saat yang bersamaan kita mengkomunikasikan perasaan kita padanya. Ini salah satu kebiasaan para pasangan yang berbahagia dalam pernikahan, mereka banyak melakukan sentuhan mesra satu sama lain, dan sebenarnya kegiatan hubungan seksual merupakan salah satu dari bentuk sentuhan.

Kadang penekanan gairah pernikahan melalui seks terlalu banyak ditekankan dalam media – baik itu film, majalah atau musik, seolah-olah apabila suatu pasangan tidak mempunyai kehidupan seks yang menggairahkan maka itu tanda ada sesuatu yang salah dalam hubungan mereka. Tapi, sebenarnya pernikahan dapat menjadi hambar dan bahkan retak oleh berbagai alasan, tidak hanya berasal dari satu sumber. Penelitian ini juga membuktikan bahwa pernikahan yang sukses dan bertahan lama tidak semata-mata dibangun atas dasar kehidupan seks yang hebat.

Tentu setiap orang mempunyai gaya sentuhannya masing-masing dan yang penting adalah hubungan yang terjalin dari sentuhan itu, sentuhan yang tidak dilakukan secara serampangan dan tidak dari hati juga tidak akan memberikan efek yang diharapkan. It’s that human connection that wins the day!

Sumber : http://www.huffingtonpost.com/2013/11/16/sex-how-important-is-it_n_4275969.html

Wednesday, May 21, 2014

Tips Membuat Pasangan Anda Merasa Dihargai dan Spesial

Pernikahan adalah “top sports” – “it takes two to tango” , orang bilang. Jika Anda bisa menghabiskan waktu, perhatian, uang dan energi untuk mengurus rumah atau mobil Anda, tentunya melakukan hal yang terbaik untuk menjaga keharmonisan pernikahan lebih penting adanya.

Berikut adalah beberapa tips yang diberikan oleh salah satu konsultan pernikahan terkemuka di Amerika Serikat yang sudah berpengalaman memberikan konsultansi kepada puluhan ribu klien, semoga bermanfaat:

1. Berikan Kado Kejutan
Tidak perlu acara khusus untuk memberikan kado kejutan, Anda bisa melakukannya “Just because you love him/her”. Pastikan bahwa kado yang diberikan adalah yang ia suka, bukan yang Anda suka ;). Pemberian itu juga mungkin saja tidak selalu berbentuk barang, tapi waktu khusus berduaan, melakukan pekerjaan tertentu yang membuat pasangan bahagia. Intinya lakukan sesuatu yang di luar kebiasaan sehari-hari yang membuat pasangan Anda bahagia

2. Jangan Pelit Memberikan Pujian
Kadang karena Anda sudah terbiasa hidup bersama dan melakukan hal bersama, Anda jadi kurang menghargai hal-hal yang pasangan Anda lakukan untuk membantu pekerjaan rumah tangga, sesimpel mencuci piring, membereskan meja makan setelah makan, atau sekedar menggantung handuk pada tempatnya. Katakan “Terima kasih sayang..” dengan senyum yang tulus dan hangat. Perhatian dan penghargaan ‘kecil’ seperti ini akan membuat suasana rumah menjadi lebih hangat, apalagi jika hal itu dilakukan di depan anak-anak, mereka akan belajar dari orang tua bagaimana caranya menghargai satu sama lain dalam kehangatan cinta.

3. Bersikap Lembut dan Santun
Kadang seseorang bisa lebih bersikap lembut dan santun kepada orang lain dibanding dengan pasangan sendiri. Padahal suami atau istri kita adalah orang yang semestinya kita perhatikan lebih dari orang lain, apalagi ikatan pernikahan adalah ikatan kedua teragung setelah perjanjian antara seorang manusia dengan Tuhannya. Perhatikan hal-hal kecil seperti cara atau intonasi kita berbicara ketika kita meminta tolong pasangan kita untuk melakukan sesuatu, sebisa mungkin pakai ‘the magic word’ “boleh minta tolong ya sayang..” dibanding dengan kata perintah, ingat pasangan kita bukan baboe lho…(NB: sekalipun sama pembantu we must behave, nda baik menyuruh ini itu apalagi dengan nada yang kurang enak dan setengah berteriak, mereka juga manusia yang punya perasaan, iya toh?)

4. Saling Memberi Ruang Untuk Bersantai
Setiap orang punya caranya masing-masing untuk melepaskan diri dari kejenuhan atau ketegangan hidup, ada yang dengan mendengarkan musik, membaca buku, nonton film, main games, shopping, atau sekedar ngobrol dengan teman. Sebisa mungkin berikan ruang pada pasangan Anda untuk mengerjakan apapun yang dia sukai, percayalah pasangan Anda akan makin menghargai Anda.

5. Hindari Perkataan Yang Cenderung Menghakimi
Pasangan Anda pulang terlambat 2 jam dari biasanya, tidak memberi kabar dan tidak mengangkat telepon, Anda pasti dibuat cemas dan berpikir yang tidak-tidak, saat ia pulang kebanyakan orang cenderung sudah mempersiapkan moncong senjata untuk ‘menembak’ dia dengan pernyataan ini-itu, suatu tindakan ‘balas dendam’ karena sudah membuat hati Anda tidak karuan dalam proses menunggu. Perhatikan dua tipe berbicara sbb:
A: “Kamu tuh dari mana aja sih! Aku telp ngga diangkat udah gitu ngga ngasih kabar, ngga pengertian banget! Ngelayap kemana dulu hayo! Jam segini baru datang, apa kata tetangga nanti..bla..bla..bla” (dengan nada tinggi dan tidak simpatik.)
B: “Sayang kok pulangnya terlambat? Aku sudah coba telp sejak dua jam yang lalu dan mengirim pesan tapi ngga dijawab, kan aku jadi bingung dan khawatir, kalau terjadi apa-apa bagaimana? Memangnya ada apa sayang?” (sambil menahan rasa dongkol juga sih…)
Kira-kira pasangan Anda akan merespon lebih baik penyikapan yang mana?
Seringkali seseorang cenderung menjatuhkan tuduhan atau berprasangka kepada pasangan, atau lebih parah lagi ‘making things into drama’. Berlatihlah untuk memisahkan ‘facts’ (kenyataan) dengan ‘’judgment’ (penghakiman). Bila Anda sudah biasa membedakan dan menguasai teknik ini kehidupan Anda akan semakin ringan, jadi tidak terlalu mudah terombang-ambing oleh perubahan kondisi dalam kehidupan.

Contoh yang lain tentang ‘facts’ adalah uang Anda yang tersisa di tabungan adalah dua puluh ribu rupiah. Pernyataan yang apa adanya tentang hal ini adalah “uangku tinggal dua puluh ribu” that’s it, ga usah di embeli apa-apa. Tapi orang yang cenderung mendramatisasi keadaan akan cederung berkata “aku sedang bangkrut”… dua pernyataan yang tampaknya serupa tapi tak sama, yang terakhir akan membawa nuansa negatif dalam menyikapi fenomena. Sama halnya dalam pernikahan, pasti akan banyak hal-hal yang dianggap ngga sreg, kurang mengena dan mengesalkan dari pasangan. Ingat untuk berespon terhadap fakta, ngga usah didramatisasi menjadi “kamu udah ngga sayang lagi sama aku”, “kamu ngga perhatian” dsb.

Just stay positive!

Apakah Anda Tipe “Stuffer” atau “Spewer”? – Cara Melampiaskan Amarah

Ketika marah seseorang biasanya akan cenderung melampiaskannya dengan satu dari dua hal yang ekstrim: memendamnya (stuffer) atau mengeluarkannya (spewer).
Adalah hal yang biasa seseorang merasa marah apalagi dalam kehidupan berumah tangga. Walaupun demikian ajaran agama manapun di dunia senantiasa mengutamakan untuk menahan atau menyembunyikan rasa marah yang biasanya bersifat menghancurkan.
Amarah itu suatu respon yang tidak spontan timbul dan kita bisa rasakan, masalahnya adalah bagaimana menghadapi perasaan yang muncul mencuat dalam hati kita, karena apabila penyikapannya terhadap rasa marah itu tidak tepat maka akan cenderung mengakibatkan ‘breakdown’ dalam komunikasi suami-istri.

Dr. David Ferguson & Don McMinn dalma bukunya “Emotional Fitness” mengatakan pentingnya mengidentifikasi apakah diri dan pasangan kita tipe “Stuffer” atau “Spewer” kemudian mencoba memahaminya.
Mari kita lihat satu persatu.

Tipe “stuffer” cenderung memendam perasaan marahnya, mereka tidak nyaman mengekspresikan emosinya secara blak-blakan.
Ada berbagai kemungkinan mengapa ‘the stuffer’ melakukan hal tersebut:
- Mereka merasa bahwa mengungkapkan kemarahan adalah suatu hal yang tercela atau sebuah dosa
- Mereka tidak nyaman berkonfrontasi dengan orang lain
- Mereka tumbuh dalam keluarga atau orang terdekat yang juga mempunyai tipe ‘the stuffer’ maka mereka menyerap perilaku yang sama.
- Mereka tumbuh dalam keluarga yang salah satunya bertipe ‘the spewer’ yang kerap kali menyakitkan hati jika mereka berbicara, maka mereka cenderung untuk tidak mengulang hal yang sama.
- Perasaan bahwa perasaan mereka tidak layak untuk didengar
- Rasa takut mengakibatkan mereka sulit mengekspresikan rasa marahnya.

Tipe ‘spewer’ justru sebaliknya, saat mereka marah biasanya cenderung untuk mengekspresikannya, orang sekitarnya akan mengetahuinya dalam sekejap dan biasanya tidak mengenakkan. Mereka melakukan hal tersebut bisa jadi karena beberapa hal sbb:
- Mereka belum menguasai kemampuan untuk mengekspresikan amarah dengan baik dan dewasa
- Mereka dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang juga mempunyai ‘the spewer’, sehingga ia meniru kelakuannya.
- Mereka memiliki ‘personal insecurities’ sehingga mengakibatkan respon untuk mengintimidasi orang lain.

Jadi…tipe yang manakah Anda atau pasangan Anda?
Mintalah bantuan Tuhan untuk bisa mengidentifikasi dan kemudian meminta solusi dari masalah yang sedang dihadapi, alih-alih saling menyalahkan satu sama lain, lebih baik sama-sama berdoa dan memohon pertolongan-Nya. Tidak ada manusia yang sempurna…

(sumber: Marriage mission.com)

7 Jurus untuk Menerima Pasangan Anda Apa Adanya

Dalam pernikahan yang baik, setiap orang menerima pasangannya sebagai satu individu yang utuh apa adanya, bahkan pada saat si dia tidak memenuhi harapan kita…
- Sherrie Campbell PhD

Salah satu penyebab keretakan dalam pernikahan adalah pikiran bahwa pasangan kita harus berubah untuk membuat kita lebih bahagia. Kita sering berpikir kalau dia mencintai kita pasti dia akan berbuat apapun untuk membuat kita bahagia kan? Ya…ngga juga sebenarnya. Sadarkah kita bahwa keinginan untuk merubah pasangan sesuai dengan keinginan kita sama halnya dengan meinta seekor kucing untuk menyalak seperti anjing. It’s just not in their system fellas! Maka, kunci bahagia dalam pernikahan salah satunya adalah menerima keadaan pasangan kita apa adanya. Bagaimanapun dia adalah jodoh yang Allah Ta’ala pilihkan untuk kita sejauh ini, adalah takdir-Nya yang suci yang membawa kalian berdua memasuki ikatan pernikahan sakral sebagai suami-istri.

Masih bergulat untuk menerima si dia apa adanya? Itu hal yang normal, take it easy, seiring dengan waktu dan kelapangan hati kita untuk ikhlas menjalani mahligai kehidupan, niscaya makin luas ruang dada kita untuk menerimanya. Berikut ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk membantu proses tersebut.

1. ‘Setting’ Ulang Harapan Anda
Saat kita sering dibuat kesal oleh kelakuan pasangan kita, coba terlebih dahulu periksa pikiran dan harapan Anda sendiri alih-alih mengeluh terus misah-misuh sana-sini. Apakah kita bisa setting ulang harapan kita daripada terus menerus menuntut si dia memenuhi semua tuntutan pribadi kita?

2. Lihat Sisi Positif
Tahukah Anda bahwa berpikir negatif dan berprasangka itu lebih mudah dibandingkan berpikir positif? Yup..karena berpikir negatif relatif tidak memerlukan upaya untuk berpikir dengan rasional, ia adalah letupan sesaat yang dipacu oleh keadaan dan biasanya dikendalikan oleh emosi.
Saat kita menemukan keadaan pasangan yang dianggap tidak sreg, daripada memfokuskan diri pada sesuatu yang dianggap ‘kekurangannya’, lebih baik mengaktifkan pikiran dan senantiasa mencari kelebihan si dia. Misalkan dia memang agak jorok, simpan pakaian seenaknya, bekas sikat gigi berantakan dst..tapi ah dia kan ayah yang baik dan suami yang bertanggungjawab. Kebiasaan berpikir positif ini akan makin terbentuk seiring dengan makin sering Anda mempraktekkannya, lama kelamaan ia akan menjadi karakter positif dan Anda akan kaget mendapati diri Anda bahkan sulit untuk berpikir buruk atau negatif tentang sesuatu 

3. Hindari Berpikir ‘Hitam-Putih’
Salah satu kunci dalam keharmonisan hubungan adalah bersifat fleksibel. Memang lebih mudah melihat dunia dalam kacamata hitam-putih, kalau ngga salah ya bener, kita cenderung mengkotak-kotakkan sesuatu itu dalam dua kotak, ‘salah’ dan ‘benar’. Tapi banyak hal dalam hidup yang sebenarnya berada dalam area abu-abu, kita tidak perlu repot-repot memaksakan itu masuk dalam kotak ‘benar’ atau ‘salah’ asal hati kita cukup legowo untuk menerima hal tersebut apa adanya. Berhentilah menghakimi sesuatu ‘benar’ atau ‘salah’, ‘baik’ atau ‘buruk’, karena apa yang benar menurut kita belum tentu benar dalam pandangan pasangan kita, dan sebaliknya.

4. Take it easy!
Perilaku kita yang cenderung menghakimi orang lain bisa jadi datang dari kebiasaan diri sendiri yang cenderung ‘pushing to the limit’, ingin berbuat yang terbaik dan cenderung ngoyo memaksakan diri. Jadi, mulai dari perilaku baik kita terhadap diri sendiri, semua punya ritme kehidupan masing-masing yang harus dihargai, just take it easy…

5. Fokuslah pada saat sekarang
Salah satu penyebab kita kurang bisa nrimo keadaan pasangan kita karena kita membandingkannya dengan sesuatu yang referensinya tentu datang dari masa lalu kita baik itu dari pengalaman atau masukan dari orang lain. Hei, sadarlah bahwa setiap orang pasti berbuat kesalahan dalam hidup, nobody is perfect! Membanding-bandingkan pasangan kita dengan orang lain akan hanya menjadi racun dalam pernikahan.

6. Berpikir kebalikannya
Coba tanyakan pada diri sendiri apabila Anda berada dalam posisi pasangan Anda yang senantiasa mendapatkan kritik dan tidak diterima apa adanya. Bagaimana kira-kira perasaan Anda? Jadi saat Anda merasa tidak cocok dengan perilakunya, sebelum meluncurkan kritik-kritik tajam dan pedas, cobalah Tanya pertanyaan di atas.

7. Fokus pada diri sendiri
Individu yang tidak bahagia akan cenderung ‘menyerang’ orang sekitarnya, cenderung berkata-kata tidak baik dan selalu ada hal yang dijadikan masalah. Ini akan membuat ketegangan-ketegangan dalam rumah tangga. Maka, dimulailah dari memeriksa diri sendiri, apakah kita bahagia? Apa yang membuat kita bahagia atau tidak bahagia? Belajar untuk bersikap baik pada diri sendiri, jujur apa adanya dan tidak menjadikan pasangan kita sebagai pelampiasan.

Little life message: Happy marriages exist between people who do not tug on each other with expectation. Love yourself, take responsibility for yourself and your marriage will be expansive.

Sumber : http://www.hitchedmag.com/article.php?id=1665