Friday, June 19, 2020

MEMBACA PERNIKAHAN
“Pernikahan adalah jalan kematian” begitu kata Jalaluddin Rumi.
Semua yang menikah akan sepakat bahwa menjalani rumah tangga bersama, menyatukan dua dunia yang berbeda itu tidak mudah. It’s definitely not a walk in a park. Sementara waham kita terlanjur dicekoki oleh kehidupan pernikahan yang romantis ala Hollywood atau telenovela dan terkaget-kaget serta tidak siap begitu terkonfrontasi oleh sekian gerindaan dalam interaksi di dalamnya. Tidak heran secara statistik lebih dari separuh pernikahan kandas di periode lima tahun pertama.
Awalnya saya berpikir menikah itu sekali seumur hidup saja. Makanya saya demikian pilih-pilih menjatuhkan pilihan pasangan hidup. I want to get marry with the one till the end of time. Begitu pikir saya. Tapi, ternyata konsep perjodohan tidak sesimpel itu. Karena saya juga membaca ada fenomena bercerai di sekitar saya, beberapa nabi seperti Ismail as bahkan dikunjungi oleh sang ayahanda Ibrahim as sekian lama setelah ditinggal di tengah padang pasir untuk membimbing ihwal mengganti pasangannya.
Saya pernah mendengar kisah tentang seorang wali songo yang dihampiri oleh seorang perempuan shalihah yang melamarnya untuk bersedia dijadikan suami. Sang waliyullah menolak sambil berkata, “Kamu memang jodohku, tapi bukan di dunia ini melainkan di alam nanti.”
Untuk melengkapi khazanah perjodohan, coba amati hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra berikut:
Suatu hari Rasulullah –saw- masuk menemui Khadijah, istri beliau yang tengah sakit yang membawa kepada kewafatannya.
Beliau –saw- berkata kepada istrinya, “Wahai Khadijah, jika engkau bertemu dengan wanita-wanita yang menjadi madumu, sampaikan salaam kepada mereka dariku.”
Khadijah bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau pernah menikah sebelumku?”
Beliau –saw- menjawab, “Tidak, akan tetapi Allah telah menikahkan aku dengan Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim dan Kultsum saudara perempuan Musa –as-“
Nah, mind blowing kan? Rasulullah –saw- telah Allah nikahkan dengan Siti Maryam, ibunda Isa al-Masih –as, Asiyah salah seorang istri Fir’aun dan Kultsum atau Miryam yang merupakan kakak perempuan Musa as.
Menikah dimana? Bukankah mereka semua tidak hidup sezaman dengan Rasulullah? Ya menikah di alam lain. Alam jiwa. Ini membawa kita kepada sebuah kesadaran bahwa ada realita lain di balik alam dunia yang kita kerap dibuat pontang-panting di dalamnya.
Saya jadi merenung, betapa rumitnya membaca takdir jika tanpa ada panduan dari-Nya. Seseorang bisa saja berjodoh dengan pasangan yang menyakitinya bahkan setara Fir’aun sekalipun seperti Asiyah ra. Tapi jika dijalani dengan sabar dan syukur, ternyata bisa jadi diganjar dengan mendapat pasangan yang lain di akhirat. I mean, lihatlah Asiyah yang mulia itu, kesabaran dan keteguhan imannya Allah ganjar dengan dinikahkan kepada manusia termulia, Muhammad –saw-. Masya Allah.
Informasi hadits di atas betul-betul mengubah cara pandang saya terhadap pernikahan. Tadinya saya ingin pernikahan yang sempurna, “sakinah- ma waddah wa rahmah” dalam versi waham saya. Ternyata Allah mengajarkan dengan cara lain. Akhirnya saya sadar bahwa kesempurnaan pernikahan itu bukan terletak pada fenomenanya. Tapi pada penerimaan kita dan keberserahdirian pada takdir-Nya. Keadaan pasangan yang ada diterima dan dijalani dulu apa adanya. Adalah mudah untuk menyerah dan bercerai, everybody can do that. Tapi untuk bertahan di dalam situasi rumah tangga yang seperti duduk di atas bara kemudian hati kita dibuat merasa nyaman bisa sambil nyeruput kopi dan berkarya saat menjalaninya. Itulah surga.
Kalaupun memang tak bisa lagi dipertahankan, itu masalah lain. Dan kalau pun skenario itu yang terjadi, Allah memberi janji dalam Al Quran, “Dan jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari karunia-Nya.” QS An Nisaa [4]: 130.
Akhirnya saya mulai memahami pernikahan sebagai sebuah peribadatan yang harus diletakkan dalam kerangka keberserahdirian, seperti halnya ibadah yang lain. Rumah tangga yang nampaknya harmonis tapi tidak membawa pasangan itu kepada keberserahdirian dan malah terlena oleh dunia bagi saya lebih membahayakan untuk keselamatan dunia dan akhirat. Artinya apapun keadaan dunia kita seharusnya satu parameternya, apakah itu membawa hati kita menjadi semakin dekat kepada-Nya? Semakin berserah diri kepada-Nya? Semakin tawakal kepada-Nya? Semakin takjub kepada-Nya? Semakin merindu-Nya? Semakin ingin berjumpa dengan-Nya?
Jika Allah yang menjadi sasaran pandang kita, maka gejolak dunia sepanas apapun tak akan terasa. Karena Allah yang menjaga diri kita. Seperti Ibrahim as yang dibakar dalam kobaran api yang besar dan Allah berfirman kepada sapi, “Wahai api, menjadi dinginlah!” Demikianpun api kehidupan dan ujian dalam rumah tangga yang orang lain lihat demikian menyiksa tapi hati kita mampu menjalaninya.
Saya jadi ingat kisah seorang ibu yang suaminya berselingkuh tiga tahun lamanya dengan orang lain hingga terinfeksi HIV/AIDS. Dan orang lain itu bukan perempuan pula, tapi seorang laki-laki. Hebatnya sang ibu tetap mau mempertahankan rumah tangganya, justru karena merasa iba dengan laki-laki yang menyakiti hatinya itu. Dia tahu suaminya walaupun demikian perilakunya, sangat dekat dengan anak-anak dan bahwa perceraian hanya akan membuat dia semakin hancur. Akhirnya mereka mencoba melanjutkan lagi pernikahan yang telah terkoyak. Mencoba menambal kerusakan bersama. Sang istri berdoa siang dan malam. Akhirnya suami pun insaf dan setiap malam shalat taubat. Allahu Akbar! Kesabaran sang istri menjadi jalan hidayah untuk suaminya.
Begitulah, sekali lagi tidak mudah membaca dinamika sebuah pernikahan. Ia adalah bagian dari Grand Design dari Sang Maha Kuasa. Jangankan membaca pernikahan orang lain, membaca pernikahan diri dan keadaan diri sendiri saja kita masih tergagap-gagap. So, please quit judging other people’s marriage.
Akan tetapi indahnya, ketidakberdayaan itu membawa kita kepada sebuah keadaan faqir yang mutlak – jika kita mau menyadarinya. Dan itu pada hakikatnya adalah sebuah tangga mi’raj menuju-Nya. Di setiap takdir yang Dia letakkan di hari ini adalah anak tangga untuk lebih mendekat dan mengenal-Nya. So, just enjoy the ride, no matter how bumpy the road is 😉;)

Tuesday, February 4, 2020

Pagi ini si bungsu yang berusia lima tahun bangun langsung menangis. Ketika ditanya mengapa, rupanya dia melihat surat yang dia buat untuk Tuhan masih tergolek di sebelah tempat tidurnya. Memang semalam jelang tidur dia bersemangat dan dengan mata yang berbinar-binar mengatakan bahwa dia akan kirim surat untuk Tuhan, “Allah will love it!” katanya. Ibunya ngga ngeh bahwa yang dia inginkan surat itu tidak ada keesokan harinya, tanda bahwa Tuhan sudah mengambil surat itu. Saya peluk si kecil yang masih menangis sambil berkata bahwa Allah sudah membaca suratnya. Dia masih geleng-geleng kepala sambil berkata, “But why God didn’t take it?” Saya berdalih karena Tuhan ingin Rumi menyimpannya. Rupanya alasan itu kurang masuk akal buatnya. Akhirnya saya coba alihkan kesedihannya dengan menonton film kartun dan saat perhatiannya teralihkan, diam-diam saya ambil surat itu dan menyimpannya di tempat yang tersembunyi. Tak lama kemudian dia berteriak, “Mama! God finally took the letter!”

Thursday, May 25, 2017

Kesimpulan Marriage Advice Project

"Marriage Advice Project" adalah penelitian yang dikomandoi oleh Karl Pillemer, seorang profesor di bidang Human Development dari Cornell University. Selama tujuh tahun terakhir Karl dan timnya telah mewawancarai lebih dari 700 para sepuh di Amerika yang sudah menikah selama 40, 50 atau lebih dari 60 tahun lamanya.

Karl menyimpulkan dari semua interview yang dilakukan bahwa mereka yang menikah selama lebih dari 40 tahun dan mengaku bahagia dalam pernikahannya memiliki satu kata sakti yaitu KOMITMEN. Seperti tutur kakek Ranjit yang berusia 80 tahun, "Pernikahan adalah dua orang berbeda yang memutuskan hidup bersama. Ketika menikah maka dua jiwa menyatu menjadi satu. Artinya hal yang paling penting dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk mengikatkan diri dengan seseorang adalah apakah kita bersedia menanggung komitmen itu. Karena tidak sedikit yang berpikiran: Oh, pernikahan ini tidak berjalan baik, kita bisa mengambil keputusan untuk bercerai kapanpun kita mau. Sadarilah bahwa pernikahan bukan kontrak basa-basi yang tertuang di atas kertas dan bisa dibatalkan kapan saja sesuka hati."

Inilah kiranya kunci pernikahan langgeng yang diberikan para sesepuh di Amerika, "Pandanglah pernikahan - di setiap fasenya - sebagai suatu komitmen seumur hidup." Kata komitmen ini harus diulang dan diuji berkali-kali sekalipun saat kondisi sepertinya tidak memungkinkan - kecuali Tuhan berkehendak lain.

Sang peneliti menyadari pada satu titik ketika mendengarkan para sepuh itu menceritakan suka duka pernikahannya bahwa mereka memandang pernikahan sebagai suatu 'jalan spiritual', 'pengembangan pribadi', 'disiplin diri'. Ia adalah sebuah proses yang lama bahkan seumur hidup yang membutuhkan disiplin dan pengorbanan untuk bisa menguasainya.

Ketika para sepuh itu berbicara mengenai komitmen, berikut adalah kualitas disiplin mental yang mereka kemukakan: sabar menanggung beban dan kesulitan, sabar menanggung rasa bosan, sabar menanggung perilaku pasangan yang tidak berkenan di hati. Namun mereka tidak berhenti di situ, kata komitmen juga menuntut kerja keras untuk membangun komunikasi satu sama lain yang kerap dirasa melelahkan karena komitmen berarti juga kita mencari solusi bersama untuk mengatasi hal-hal yang dirasa mengganjal jalannya bahtera pernikahan.

Mae Powers, seorang nenek berusia 70 tahun mengaku telah melalui jalan pernikahan yang mendaki dan berbatu: "Tidak mudah, komitmen Anda dipertaruhkan setiap saat. Menikah adalah keputusan yang kita ambil secara sadar untuk tetap bersama dengan pasangan kita. Khususnya ketika badai sedang melanda pernikahan, di titik itu Anda memutuskan untuk memegang bara komitmen suci penyatuan pernikahan atau melepaskannya begitu saja."

Pada akhirnya, mereka yang berhasil melalui hempasan badai dalam pernikahan mengaku mendapatkan kepuasan yang dalam yang jauh lebih membawa kebahagiaan dibandingkan sensasi awal saat masa berpacaran atau fase bulan madu dahulu, ya bahkan jauh lebih baik dibanding sensasi saat menukar pasangan tua Anda dengan menikah top model sekalipun. Karena menjelang saat akhir kehidupan bersama dengan seseorang yang kita dibuat jatuh hati padanya 60 atau 70 tahun yang lalu sungguh sesuatu yang sublim.

(Adaptasi dan terjemahan dari artikel yang ditulis oleh Karl Pillemer Ph.D di Psychology Today, 28 Maret 2015)

Monday, November 21, 2016

Kesulitan Dalam Pernikahan Bukan Akhir Dari Segalanya

Seringkali seseorang mengeluh tentang pasangannya seperti,
"dia tak pernah mendengarkan saya!"
"dia ngga pernah mengerti kebutuhanku!"
"percuma bicara dengannya!"
"pembicaraan kita ngga nyambung!"
"susah membangun hubungan dengannya!"

Biasanya setelah masa bulan madu berakhir maka akan mulai berbaur semua kebiasaan masing-masing dan tidak jarang menjadi sumber konflik, belum terhitung adanya faktor dari luar seperti orang tua/mertua, tetangga, teman kantor dan juga kehadiran anak yang bisa malah memperdalam jurang konflik apabila tidak disikapi dengan dewasa dan bijak oleh pasangan.

Memang tidak banyak yang mempersiapkan diri untuk kesulitan yang akan timbul dalam pernikahan, banyak yang terlena oleh buaian mimpi indah bahwa menikah itu indah dan menemukan separuh sayap kita adalah sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Kenyataannya bahwa hidup bersama di satu atap dan berbagi banyak hal dengan pasangan pasti akan menimbulkan friksi, itu adalah hal yang wajar dan harus disikapi dengan kepala dingin tanpa harus bereaksi negatif dan bernada menyerah setiap kali ada kesulitan dalam hubungan pernikahan.

Kesulitan dalam membangun komunikasi adalah keniscayaan karena semua proses di dunia ini membutuhkan waktu, pergesekan yang timbul dalam interaksi pernikahan di sisi lain akan memperdalam kadar cinta pasangan tersebut apabila mereka mau mengambil pelajaran darinya. Yang harus dimiliki pertama kali adalah mentalitas positif, bahwa menikah untuk beribadah. Maka apapun yang terjadi kita sikapi sebagai sebuah pembersihan (thaharah) dari Yang Maha Kuasa yang secara syariat dikirimkan melalui pasangan kita, sebagai bagian dari membangun separuh agama (ad diin).[]

Sunday, November 20, 2016

Saat Anda Frustasi Menjalin Hubungan Dengan Pasangan

Hubungan yang terjalin antara dua pasangan yang serasi selaiknya tidak melelahkan dan tentu tidak menjadikan salah satu atau keduanya merasa berat dan frustasi menjalankannya. Namun pada kenyataannya berinteraksi dengan pasangan yang berbeda jenis kelamin, kebiasaan, latar belakang dan cara dibesarkan itu memang kerap memancing gesekan satu sama lain. Hal yang pertama harus dicamkan adalah sikapilah itu sebagai hal yang wajar, perbedaan itu pasti, bahkan dua bayi kembar identik yang dibesarkan di rahim ibu yang sama pun akan memiliki perbedaan apalagi Anda dengan sang pasangan yang dibesarkan di dua dunia yang berbeda, perbedaan pasti ada. Jadi masalahnya bukan pada adanya perbedaan akan tetapi lebih kepada bagaimana kita menyikapi perbedaan yang ada.

Jurus yang tepat yang telah dipraktekkan oleh John Gray ketika ia menerapkan metode ini kepada lebih dari 25.000 orang yang kemudian membuahkan hasil yang positif adalah ketika masing-masing mengerti mekanisme yang terjadi, memahami pola komunikasi dan cara ekspresi yang berbeda dari masing-masing individu maka orang itu akan menjadi lebih terbuka hatinya dan pengertian sehingga akan lebih mudah memaafkan, dan buah dari memaafkan adalah dengan merasakan kembali manisnya cinta dan kasih yang ada di dalam masing-masing hati pasangan itu.

Jadi kuncinya adalah membuka diri untuk mencoba lebih mengerti sang pasangan, mengerti mengapa ia mengatakan apa yang ia telah katakan, mengerti mengapa ia berperilaku seperti itu dan cara yang terbaik untuk mengerti adalah dengan membuka komunikasi yang baik dan menjadi pendengar yang penuh perhatian. Tentu ini tidak mudah apalagi bagi pasangan yang jarang mengemukakan perasaannya yang terdalam, namun jangan menyerah, semua hal yang baik perlu waktu dan proses dalam melakukannya. Just keep trying ! ;)

Pertimbangkan Hal Ini Sebelum Memutuskan Untuk Bercerai

Tidak sedikit pasangan suami istri yang telah menikah lama di perjalanan merasa hubungannya menjadi hambar dan tidak merasakan ada ketertarikan antara satu sama lain, bahwa kebersamaan sehari-hari hanya sebatas rutinitas yang harus dilakukan. Kemudian ketika banyak kekecewaan dan ketidakbahagiaan ditumpuk dan tidak dikomunikasikan, mereka akan pada satu titik ketika suatu kesimpulan klasik ditarik "aku tidak bahagia lagi dalam pernikahan ini" atau "kami sudah tidak sejalan lagi" atau "tidak ada lagi kecocokan di antara kami".

Apakah benar demikian?
Pada beberapa kasus hubungan antara pasangan bisa jadi memang demikian parah sedemikian rupa sehingga sulit untuk dipertahankan dan keputusan berpisah adalah sesuatu yang terbaik pada titik itu, namun pada kebanyakan kasus banyak pasangan yang bisa dikeluarkan dari titik jenuh dalam rumah tangga ketika komunikasi mulai dibuka dan pemahaman akan adanya perbedaan cara dan memproses antara suami (laki-laki) dan istri (perempuan) bisa mengakibatkan sedemikian banyak miskomunikasi yang berkontribusi pada timbulkan kekesalan dan kekecewaan di kedua belah pihak.

Sebelum memutuskan diagnosa "cerai" dalam pernikahan Anda, cobalah untuk melihat kepada pasangan Anda lebih dalam dan meraih kembali rasa cinta yang pernah dimiliki bersama, untuk melakukan hal ini dibutuhkan waktu dan tenaga khusus. Sebuah investasi yang sangat patut untuk disediakan, apalagi jika pasangan tersebut telah dikaruniai anak sebagai buah cinta antara mereka berdua. So, how about giving your marriage another chance?

Tetap Cinta Walaupun Si Dia Menjengkelkan!

Kualitas cinta seseorang sesungguhnya bukan sekadar diukur dari sejauh mana ia berkorban membelikan orang yang dicintainya sesuatu, bukan sesimpel dari semua foto romantis yang dipajang di sosial media ataupun telah berapa lama pasangan itu telah bersama berbagi cerita.

Cinta yang sejati akan diuji justru pada saat pasangan mengalami masa-masa yang sulit, bisa berupa kesempitan ekonomi yang ditanggung bersama dengan kompak, saling memaafkan yang tak terhitung jumlahnya saat masing-masing merasa tersakiti baik oleh perilaku atau lisannya dan beragam tantangan hidup yang dihadapi dengan bahu membahu.

Maka, jika kita ingin melihat sedalam apa cinta si dia, lihatlah responnya saat kita berbuat salah atau pada saat menghadapi kesulitan bersama. And that is more than just flowers and gifts in the whole world!