Monday, November 21, 2016

Kesulitan Dalam Pernikahan Bukan Akhir Dari Segalanya

Seringkali seseorang mengeluh tentang pasangannya seperti,
"dia tak pernah mendengarkan saya!"
"dia ngga pernah mengerti kebutuhanku!"
"percuma bicara dengannya!"
"pembicaraan kita ngga nyambung!"
"susah membangun hubungan dengannya!"

Biasanya setelah masa bulan madu berakhir maka akan mulai berbaur semua kebiasaan masing-masing dan tidak jarang menjadi sumber konflik, belum terhitung adanya faktor dari luar seperti orang tua/mertua, tetangga, teman kantor dan juga kehadiran anak yang bisa malah memperdalam jurang konflik apabila tidak disikapi dengan dewasa dan bijak oleh pasangan.

Memang tidak banyak yang mempersiapkan diri untuk kesulitan yang akan timbul dalam pernikahan, banyak yang terlena oleh buaian mimpi indah bahwa menikah itu indah dan menemukan separuh sayap kita adalah sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Kenyataannya bahwa hidup bersama di satu atap dan berbagi banyak hal dengan pasangan pasti akan menimbulkan friksi, itu adalah hal yang wajar dan harus disikapi dengan kepala dingin tanpa harus bereaksi negatif dan bernada menyerah setiap kali ada kesulitan dalam hubungan pernikahan.

Kesulitan dalam membangun komunikasi adalah keniscayaan karena semua proses di dunia ini membutuhkan waktu, pergesekan yang timbul dalam interaksi pernikahan di sisi lain akan memperdalam kadar cinta pasangan tersebut apabila mereka mau mengambil pelajaran darinya. Yang harus dimiliki pertama kali adalah mentalitas positif, bahwa menikah untuk beribadah. Maka apapun yang terjadi kita sikapi sebagai sebuah pembersihan (thaharah) dari Yang Maha Kuasa yang secara syariat dikirimkan melalui pasangan kita, sebagai bagian dari membangun separuh agama (ad diin).[]

Sunday, November 20, 2016

Saat Anda Frustasi Menjalin Hubungan Dengan Pasangan

Hubungan yang terjalin antara dua pasangan yang serasi selaiknya tidak melelahkan dan tentu tidak menjadikan salah satu atau keduanya merasa berat dan frustasi menjalankannya. Namun pada kenyataannya berinteraksi dengan pasangan yang berbeda jenis kelamin, kebiasaan, latar belakang dan cara dibesarkan itu memang kerap memancing gesekan satu sama lain. Hal yang pertama harus dicamkan adalah sikapilah itu sebagai hal yang wajar, perbedaan itu pasti, bahkan dua bayi kembar identik yang dibesarkan di rahim ibu yang sama pun akan memiliki perbedaan apalagi Anda dengan sang pasangan yang dibesarkan di dua dunia yang berbeda, perbedaan pasti ada. Jadi masalahnya bukan pada adanya perbedaan akan tetapi lebih kepada bagaimana kita menyikapi perbedaan yang ada.

Jurus yang tepat yang telah dipraktekkan oleh John Gray ketika ia menerapkan metode ini kepada lebih dari 25.000 orang yang kemudian membuahkan hasil yang positif adalah ketika masing-masing mengerti mekanisme yang terjadi, memahami pola komunikasi dan cara ekspresi yang berbeda dari masing-masing individu maka orang itu akan menjadi lebih terbuka hatinya dan pengertian sehingga akan lebih mudah memaafkan, dan buah dari memaafkan adalah dengan merasakan kembali manisnya cinta dan kasih yang ada di dalam masing-masing hati pasangan itu.

Jadi kuncinya adalah membuka diri untuk mencoba lebih mengerti sang pasangan, mengerti mengapa ia mengatakan apa yang ia telah katakan, mengerti mengapa ia berperilaku seperti itu dan cara yang terbaik untuk mengerti adalah dengan membuka komunikasi yang baik dan menjadi pendengar yang penuh perhatian. Tentu ini tidak mudah apalagi bagi pasangan yang jarang mengemukakan perasaannya yang terdalam, namun jangan menyerah, semua hal yang baik perlu waktu dan proses dalam melakukannya. Just keep trying ! ;)

Pertimbangkan Hal Ini Sebelum Memutuskan Untuk Bercerai

Tidak sedikit pasangan suami istri yang telah menikah lama di perjalanan merasa hubungannya menjadi hambar dan tidak merasakan ada ketertarikan antara satu sama lain, bahwa kebersamaan sehari-hari hanya sebatas rutinitas yang harus dilakukan. Kemudian ketika banyak kekecewaan dan ketidakbahagiaan ditumpuk dan tidak dikomunikasikan, mereka akan pada satu titik ketika suatu kesimpulan klasik ditarik "aku tidak bahagia lagi dalam pernikahan ini" atau "kami sudah tidak sejalan lagi" atau "tidak ada lagi kecocokan di antara kami".

Apakah benar demikian?
Pada beberapa kasus hubungan antara pasangan bisa jadi memang demikian parah sedemikian rupa sehingga sulit untuk dipertahankan dan keputusan berpisah adalah sesuatu yang terbaik pada titik itu, namun pada kebanyakan kasus banyak pasangan yang bisa dikeluarkan dari titik jenuh dalam rumah tangga ketika komunikasi mulai dibuka dan pemahaman akan adanya perbedaan cara dan memproses antara suami (laki-laki) dan istri (perempuan) bisa mengakibatkan sedemikian banyak miskomunikasi yang berkontribusi pada timbulkan kekesalan dan kekecewaan di kedua belah pihak.

Sebelum memutuskan diagnosa "cerai" dalam pernikahan Anda, cobalah untuk melihat kepada pasangan Anda lebih dalam dan meraih kembali rasa cinta yang pernah dimiliki bersama, untuk melakukan hal ini dibutuhkan waktu dan tenaga khusus. Sebuah investasi yang sangat patut untuk disediakan, apalagi jika pasangan tersebut telah dikaruniai anak sebagai buah cinta antara mereka berdua. So, how about giving your marriage another chance?

Tetap Cinta Walaupun Si Dia Menjengkelkan!

Kualitas cinta seseorang sesungguhnya bukan sekadar diukur dari sejauh mana ia berkorban membelikan orang yang dicintainya sesuatu, bukan sesimpel dari semua foto romantis yang dipajang di sosial media ataupun telah berapa lama pasangan itu telah bersama berbagi cerita.

Cinta yang sejati akan diuji justru pada saat pasangan mengalami masa-masa yang sulit, bisa berupa kesempitan ekonomi yang ditanggung bersama dengan kompak, saling memaafkan yang tak terhitung jumlahnya saat masing-masing merasa tersakiti baik oleh perilaku atau lisannya dan beragam tantangan hidup yang dihadapi dengan bahu membahu.

Maka, jika kita ingin melihat sedalam apa cinta si dia, lihatlah responnya saat kita berbuat salah atau pada saat menghadapi kesulitan bersama. And that is more than just flowers and gifts in the whole world!