Thursday, May 25, 2017

Kesimpulan Marriage Advice Project

"Marriage Advice Project" adalah penelitian yang dikomandoi oleh Karl Pillemer, seorang profesor di bidang Human Development dari Cornell University. Selama tujuh tahun terakhir Karl dan timnya telah mewawancarai lebih dari 700 para sepuh di Amerika yang sudah menikah selama 40, 50 atau lebih dari 60 tahun lamanya.

Karl menyimpulkan dari semua interview yang dilakukan bahwa mereka yang menikah selama lebih dari 40 tahun dan mengaku bahagia dalam pernikahannya memiliki satu kata sakti yaitu KOMITMEN. Seperti tutur kakek Ranjit yang berusia 80 tahun, "Pernikahan adalah dua orang berbeda yang memutuskan hidup bersama. Ketika menikah maka dua jiwa menyatu menjadi satu. Artinya hal yang paling penting dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk mengikatkan diri dengan seseorang adalah apakah kita bersedia menanggung komitmen itu. Karena tidak sedikit yang berpikiran: Oh, pernikahan ini tidak berjalan baik, kita bisa mengambil keputusan untuk bercerai kapanpun kita mau. Sadarilah bahwa pernikahan bukan kontrak basa-basi yang tertuang di atas kertas dan bisa dibatalkan kapan saja sesuka hati."

Inilah kiranya kunci pernikahan langgeng yang diberikan para sesepuh di Amerika, "Pandanglah pernikahan - di setiap fasenya - sebagai suatu komitmen seumur hidup." Kata komitmen ini harus diulang dan diuji berkali-kali sekalipun saat kondisi sepertinya tidak memungkinkan - kecuali Tuhan berkehendak lain.

Sang peneliti menyadari pada satu titik ketika mendengarkan para sepuh itu menceritakan suka duka pernikahannya bahwa mereka memandang pernikahan sebagai suatu 'jalan spiritual', 'pengembangan pribadi', 'disiplin diri'. Ia adalah sebuah proses yang lama bahkan seumur hidup yang membutuhkan disiplin dan pengorbanan untuk bisa menguasainya.

Ketika para sepuh itu berbicara mengenai komitmen, berikut adalah kualitas disiplin mental yang mereka kemukakan: sabar menanggung beban dan kesulitan, sabar menanggung rasa bosan, sabar menanggung perilaku pasangan yang tidak berkenan di hati. Namun mereka tidak berhenti di situ, kata komitmen juga menuntut kerja keras untuk membangun komunikasi satu sama lain yang kerap dirasa melelahkan karena komitmen berarti juga kita mencari solusi bersama untuk mengatasi hal-hal yang dirasa mengganjal jalannya bahtera pernikahan.

Mae Powers, seorang nenek berusia 70 tahun mengaku telah melalui jalan pernikahan yang mendaki dan berbatu: "Tidak mudah, komitmen Anda dipertaruhkan setiap saat. Menikah adalah keputusan yang kita ambil secara sadar untuk tetap bersama dengan pasangan kita. Khususnya ketika badai sedang melanda pernikahan, di titik itu Anda memutuskan untuk memegang bara komitmen suci penyatuan pernikahan atau melepaskannya begitu saja."

Pada akhirnya, mereka yang berhasil melalui hempasan badai dalam pernikahan mengaku mendapatkan kepuasan yang dalam yang jauh lebih membawa kebahagiaan dibandingkan sensasi awal saat masa berpacaran atau fase bulan madu dahulu, ya bahkan jauh lebih baik dibanding sensasi saat menukar pasangan tua Anda dengan menikah top model sekalipun. Karena menjelang saat akhir kehidupan bersama dengan seseorang yang kita dibuat jatuh hati padanya 60 atau 70 tahun yang lalu sungguh sesuatu yang sublim.

(Adaptasi dan terjemahan dari artikel yang ditulis oleh Karl Pillemer Ph.D di Psychology Today, 28 Maret 2015)

No comments:

Post a Comment